Pacitan, 15 Oktober 2026 – Program Studi Magister Desain Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia Yogyakarta menyelenggarakan Field Study bertema “Designing Human Narratives: Artefak, Ruang, dan Pengalaman Museum” di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada hari Kamis (15/10). Kegiatan ini diikuti 13 mahasiswa Magister Desain dan didampingi Koordinator Program Studi Magister Desain, Bapak Dr.Sn. Rahmawan Dwi Prasetya, S.Sn., M.Si., serta Bapak Dr.Sn. Artbanu Wishnu Aji, S.Sn., M.T. bertindak sebagai koordinator kegiatan sekaligus Dosen Pengampu.
Field study ini dirancang sebagai bagian dari proses akademik, bukan sekadar kunjungan atau wisata pendidikan. Mahasiswa diajak mempertemukan teori dengan fenomena desain secara langsung, lalu menguji pemahaman tentang hubungan manusia, artefak, ruang, dan pengalaman di lingkungan yang nyata. Seluruh pengamatan di lapangan berpegang pada satu pertanyaan utama: bagaimana desain mengubah artefak menjadi narasi, dan bagaimana narasi tersebut membentuk pengalaman serta pemahaman manusia.
Dua museum dipilih karena karakternya berbeda, tetapi saling melengkapi sebagai bahan kajian. Museum Song Terus di Punung, Pacitan, berfokus pada perjalanan manusia prasejarah, perkembangan budaya, dan perubahan lingkungan di kawasan Gunung Sewu dari periode Pleistosen hingga Holosen. Di sini, artefak dan material menjadi medium penting untuk memahami hubungan manusia dengan lingkungannya. Sementara itu, Museum dan Galeri Seni SBY*ANI merupakan museum kepresidenan yang membangun narasi lewat perjalanan hidup, dokumentasi, memorabilia, seni, dan berbagai representasi biografis. Perbedaan keduanya memberi kesempatan untuk membandingkan bagaimana artefak diubah menjadi narasi, dan bagaimana narasi diubah menjadi pengalaman.
Rombongan berangkat dari kampus ISI Yogyakarta pada pagi hari dan mengawali kunjungan di Museum Song Terus. Setelah itu, rombongan beristirahat sejenak dengan menyantab hidangan laut sekaligus menikmati hembusan angin laut di Pantai Klayar. Perjalanan dilanjutkan ke Museum dan Galeri Seni SBY*ANI di Kota Pacitan.
Selama di museum, mahasiswa tidak diminta mencatat semua informasi yang tersedia. Mereka dibagi ke dalam kelompok, dan setiap kelompok memegang satu sudut pandang pengamatan atau observation lens, antara lain hubungan manusia dan benda, material dan budaya material, pengalaman spasial, narasi dan penceritaan, emosi dan memori, desain interaksi dan informasi, serta keberlanjutan dan konteks. Setiap kelompok memilih dan mendokumentasikan bukti yang relevan dengan fokusnya, lalu mengamati kedua museum dengan sudut pandang yang sama agar temuannya dapat dibandingkan.
Kegiatan ini tidak berakhir dengan laporan perjalanan konvensional. Setiap kelompok menyusun Comparative Museum Experience Analysis yang berisi bukti visual, interpretasi, dan perbandingan antara kedua museum, lalu dipresentasikan pada pertemuan mata kuliah berikutnya. Selain itu, setiap mahasiswa menulis refleksi kritis singkat dengan pertanyaan, “Apa yang saya pelajari mengenai manusia melalui cara museum dirancang?” Temuan dari kegiatan ini juga dapat dikembangkan lebih jauh dalam mata kuliah lain, mulai dari Desain & Budaya, Desain Berkelanjutan, hingga Studio Eksplorasi Desain dan Pengkajian Iterasi Desain.
“Sebagai mahasiswa desain produk, saya merasa puas dan senang karena Museum Song Terus memberi pengalaman tata pamer arkeologis yang sangat menarik, sementara Museum SBY*ANI menunjukkan kekuatan narasi tokoh dan memorabilia yang terasa personal. Kedua museum mengajarkan bahwa pengalaman museum yang baik dibangun melalui alur kunjungan yang jelas, informasi yang mudah dibaca, kenyamanan dan aksesibilitas pengunjung, kedekatan emosional dengan cerita, serta dukungan konservasi koleksi, ketahanan material display, pengelolaan cahaya dan energi, dan keseimbangan media digital dan fisik agar pengalaman itu tetap bermakna dan berkelanjutan. Pengalaman ini memperkuat pandangan saya bahwa desain produk berperan merancang pengalaman museum yang inklusif, bermakna, dan berkelanjutan, bukan hanya soal bentuk tetapi juga bagaimana cerita dan koleksi dipahami serta dijaga untuk jangka panjang.”, ulas dari salah seorang Mahasiswa Magister Desain, Aria Sungsang. Melalui field study ini, mahasiswa belajar bahwa desain tidak hanya menghasilkan objek atau ruang, tetapi juga membentuk cara manusia memahami artefak, sejarah, budaya, identitas, dan pengalaman.
Author : Tim Humas Prodi Magister Desain













