56 Karya Hadir dalam Pameran Purna Bakti “RESONANSI” FSRD ISI Yogyakarta

56 Karya Hadir dalam Pameran Purna Bakti “RESONANSI” FSRD ISI Yogyakarta

Kab. Bantul, 7 Oktober 2026— Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Yogyakarta membuka Pameran Purna Bakti Dosen bertajuk “RESONANSI: Gema Pengetahuan, Jejak Pengajaran” pada Rabu malam (7/10), di Galeri RJ Katamsi, ISI Yogyakarta. Pameran berlangsung hingga 15 Oktober 2026 dan dapat dikunjungi oleh sivitas akademika serta masyarakat umum.

Pameran ini diselenggarakan sebagai bentuk penghargaan kepada tiga dosen FSRD ISI Yogyakarta yang memasuki masa purna bakti, yaitu Prof. Drs. Martinus Dwi Marianto, MFA, Ph.D., Drs. Eko Sunarto, M.Sn., dan Dra. Titiana Irawani, M.Sn. Ketiganya telah memberikan kontribusi dalam bidang pengajaran, penciptaan karya, penelitian, serta pengembangan kehidupan akademik dan seni selama menjalankan masa pengabdian.

Sebanyak 56 karya dihadirkan dalam pameran ini. Jumlah tersebut terdiri atas 10 karya Prof. Drs. Martinus Dwi Marianto, MFA, Ph.D., 19 karya Dra. Titiana Irawani, M.Sn., delapan karya Drs. Eko Sunarto, M.Sn., serta 19 karya dari para kolega seniman. Keragaman karya yang ditampilkan memperlihatkan perjalanan artistik sekaligus jaringan akademik dan profesional yang terbentuk selama masa pengabdian ketiga dosen tersebut.

Mengangkat tema “Resonansi”, pameran ini memaknai pengajaran sebagai proses yang terus bergerak melampaui ruang kelas dan masa kerja seorang dosen. Pengetahuan, pengalaman artistik, metode, serta nilai-nilai yang pernah dibagikan dapat kembali hadir melalui karya dan praktik para mahasiswa, alumni, kolega, serta generasi berikutnya.

Dekan FSRD ISI Yogyakarta, Muhamad Sholahuddin, S.Sn., M.T., menyampaikan bahwa masa purna bakti tidak berarti berakhirnya hubungan seorang dosen dengan lingkungan akademik maupun proses perkembangan pengetahuan.

“Purna bakti menandai selesainya masa pengabdian formal, tetapi karya, pemikiran, dan nilai-nilai yang telah diwariskan akan terus menjadi bagian dari perjalanan FSRD ISI Yogyakarta. Pengaruh seorang pendidik akan tetap hidup melalui mahasiswa, alumni, kolega, dan generasi yang meneruskan pengetahuan tersebut,” ungkapnya.

Menurutnya, pameran ini juga menjadi salah satu upaya fakultas dalam merawat ingatan institusi. Perjalanan para dosen senior merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan pendidikan seni yang perlu didokumentasikan, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ketua Pelaksana, Dyah Retno Fitriani, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa pameran “RESONANSI” dirancang bukan hanya sebagai ruang retrospektif, tetapi juga sebagai ruang pertemuan lintas generasi.

“Kami tidak ingin pameran ini hanya menjadi ruang untuk mengenang perjalanan masa lalu. ‘RESONANSI’ mempertemukan karya para dosen purna bakti dengan karya kolega seniman, sehingga jejak pengajaran, proses berkarya, dan hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun dapat dibaca kembali secara lebih hidup,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kehadiran 56 karya menunjukkan luasnya hubungan artistik dan akademik yang berkembang dari proses pengajaran dan kolaborasi. Setiap karya membawa pengalaman, pemikiran, dan cerita yang berbeda, tetapi saling terhubung melalui perjalanan ketiga dosen purna bakti tersebut.

Dalam pendidikan seni, pengetahuan tidak hanya disampaikan melalui teori dan materi perkuliahan. Pengetahuan juga diwariskan melalui praktik studio, demonstrasi, kritik karya, percakapan, keteladanan, dan pengalaman berkesenian. Pengaruh tersebut tidak selalu langsung terlihat, tetapi dapat muncul kembali dalam karya, penelitian, praktik profesional, maupun proses pengajaran yang dilakukan oleh generasi berikutnya.

Pembukaan pameran dihadiri oleh jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, seniman, serta tamu undangan. Pertemuan berbagai generasi dalam pembukaan tersebut memperkuat posisi pameran sebagai ruang apresiasi sekaligus ruang untuk merawat hubungan akademik dan artistik yang telah terbentuk.

Melalui “RESONANSI: Gema Pengetahuan, Jejak Pengajaran”, FSRD ISI Yogyakarta ingin menegaskan bahwa sebuah proses pendidikan selalu meninggalkan jejak. Pengajaran dapat berakhir di ruang kelas, tetapi pengetahuan akan terus bergema melalui karya, pemikiran, dan kehidupan orang-orang yang pernah menerimanya.

Author : Panitia Pameran Resonansi & Tim Humas FSRD

Cari
Categories

Bagikan postingan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_GBEN