Perkuat Layanan Pendidikan Inklusif, ULD ISI Yogyakarta Gelar Pelatihan bagi Tenaga Kependidikan

Perkuat Layanan Pendidikan Inklusif, ULD ISI Yogyakarta Gelar Pelatihan bagi Tenaga Kependidikan

Bantul, 5 Agustus 2026 Unit Layanan Disabilitas (ULD) Institut Seni Indonesia Yogyakarta menyelenggarakan Pelatihan Manajemen Layanan Mahasiswa Difabel bagi Tenaga Kependidikan pada Rabu (5/8) di Gedung Sasana Ajiyasa Lantai 1, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya ISI Yogyakarta memperkuat lingkungan pendidikan tinggi yang semakin inklusif, aksesibel, dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa difabel.

Pelatihan diikuti sekitar 60 tenaga kependidikan dari berbagai unit di lingkungan ISI Yogyakarta, meliputi bidang akademik, kemahasiswaan, perpustakaan, laboratorium dan studio, teknologi informasi, keuangan, administrasi fakultas, pelayanan terpadu, satuan pengamanan, hingga Unit Layanan Disabilitas. Keterlibatan peserta lintas unit tersebut menjadi penting karena layanan terhadap mahasiswa difabel tidak hanya berlangsung di ruang perkuliahan, tetapi bersinggungan dengan berbagai layanan akademik maupun nonakademik selama mahasiswa berada di lingkungan kampus.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I ISI Yogyakarta, Dr. Dewanto Sukistono, M.Sn. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa upaya membangun kampus inklusif membutuhkan kesiapan seluruh unsur perguruan tinggi, termasuk tenaga kependidikan yang berhadapan secara langsung dengan mahasiswa dalam berbagai bentuk pelayanan.

“Pendidikan yang inklusif bukan hanya berkaitan dengan tersedianya fasilitas, tetapi juga bagaimana seluruh unsur di kampus mampu memberikan pelayanan yang setara dan memahami kebutuhan setiap mahasiswa. Tenaga kependidikan memiliki peran yang sangat penting karena mereka menjadi bagian dari pengalaman mahasiswa dalam mengakses berbagai layanan di ISI Yogyakarta,” ujar Bapak Dr. Dewanto.

Ia berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan praktik pelayanan sehari-hari sehingga mahasiswa difabel dapat memperoleh layanan secara lebih mudah, nyaman, dan bermartabat.

Ketua ULD ISI Yogyakarta, Prof. Dr. Suastiwi Triatmodjo, M. Des., dalam sambutannya menjelaskan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam pengembangan layanan disabilitas di lingkungan institut. Menurutnya, kebutuhan setiap mahasiswa difabel dapat berbeda sehingga pelayanan tidak dapat hanya didasarkan pada asumsi mengenai jenis disabilitas tertentu.

“Yang perlu kita bangun bukan sekadar pemahaman tentang ragam disabilitas, tetapi kepekaan dalam melihat kebutuhan individual. Melalui pelatihan ini, kami berharap tenaga kependidikan semakin memahami bagaimana berkomunikasi, memberikan bantuan, dan menyediakan layanan dengan cara yang tepat tanpa mengurangi kemandirian mahasiswa,” jelas Ibu Prof. Dr. Suastiwi.

Hal tersebut sejalan dengan latar belakang kegiatan yang menempatkan tenaga kependidikan sebagai salah satu garda terdepan dalam layanan administrasi akademik, kemahasiswaan, perpustakaan, laboratorium, teknologi informasi, keuangan, serta layanan umum lainnya. Kualitas interaksi pada berbagai titik layanan tersebut memiliki pengaruh langsung terhadap akses dan pengalaman belajar mahasiswa difabel selama menempuh pendidikan.

Dari Pemahaman Disabilitas hingga Simulasi Pelayanan

Pelatihan menghadirkan Andayani, SIP., MSW., Tim Ahli Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebagai narasumber. Sesi materi berlangsung mulai pukul 09.30 WIB dan dilanjutkan dengan diskusi serta studi kasus setelah waktu istirahat.

Materi yang diberikan mencakup kebijakan pendidikan tinggi inklusif, hak mahasiswa difabel di perguruan tinggi, pengenalan ragam disabilitas dan kebutuhan layanannya, etika berinteraksi dan komunikasi inklusif, konsep akomodasi yang layak, manajemen layanan ramah difabel, hingga mekanisme penanganan pengaduan. Peserta juga diajak membahas studi kasus dan simulasi pelayanan agar konsep yang dipelajari dapat dikaitkan dengan situasi yang mungkin dijumpai dalam pekerjaan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, Andayani menekankan bahwa pelayanan inklusif perlu berangkat dari pemahaman terhadap individu, bukan semata-mata kategori disabilitasnya.

“Dua orang dengan jenis disabilitas yang sama belum tentu membutuhkan bentuk bantuan yang sama. Karena itu, prinsip yang penting dalam pelayanan adalah bertanya, mendengarkan kebutuhan mahasiswa, kemudian menentukan bentuk akomodasi yang paling sesuai. Pelayanan yang baik bukan mengambil alih apa yang dapat dilakukan mahasiswa, tetapi memastikan bahwa hambatan untuk mengakses layanan dapat diminimalkan,” jelas Ibu Andayani.

Pendekatan tersebut juga menjadi salah satu fokus utama pelatihan. Selain memperkenalkan ragam kebutuhan mahasiswa difabel, peserta diarahkan untuk memahami akomodasi yang layak serta etika komunikasi dalam berbagai konteks layanan administrasi dan akademik. Secara khusus, pelatihan bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kependidikan dalam menyediakan layanan yang inklusif, aksesibel, dan responsif.

Diskusi dan studi kasus menjadi ruang bagi peserta untuk menghubungkan materi dengan pengalaman pelayanan di unit masing-masing. Beragam situasi yang mungkin terjadi di ruang administrasi, studio, laboratorium, perpustakaan maupun area pelayanan umum dibahas untuk melihat bagaimana respons petugas dapat disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa.

Salah seorang peserta, Lina Setiawati, S.Kom., M.M., menilai materi tersebut memberikan perspektif baru mengenai pelayanan terhadap mahasiswa difabel.

“Selama ini mungkin kita ingin membantu, tetapi belum tentu mengetahui cara membantu yang tepat. Dari kegiatan ini saya semakin memahami bahwa yang pertama perlu dilakukan adalah berkomunikasi dengan mahasiswa dan menanyakan kebutuhannya, bukan langsung berasumsi. Hal-hal yang terlihat sederhana ternyata sangat menentukan kenyamanan mahasiswa ketika menerima layanan,” ungkap Ibu Lina.

Membangun Inklusi sebagai Budaya Pelayanan

Penyelenggaraan pelatihan ini menunjukkan bahwa pengembangan kampus inklusif tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik dan penyediaan fasilitas aksesibel. Pengetahuan, sikap, pola komunikasi, serta mekanisme pelayanan menjadi bagian yang sama pentingnya dalam memastikan seluruh mahasiswa memiliki kesempatan yang setara untuk mengikuti kehidupan akademik.

Bagi perguruan tinggi seni seperti ISI Yogyakarta, kebutuhan tersebut memiliki konteks yang semakin beragam karena proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui administrasi dan pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui aktivitas studio, laboratorium, praktik, produksi, maupun berbagai kegiatan akademik lainnya. Karena itu, keterlibatan tenaga kependidikan dari berbagai unit menjadi salah satu langkah untuk membangun pemahaman bersama mengenai layanan yang lebih inklusif.

Melalui Pelatihan Manajemen Layanan Mahasiswa Difabel ini, ULD ISI Yogyakarta berharap tenaga kependidikan semakin memiliki pemahaman dan keterampilan dalam memberikan pelayanan yang profesional, komunikatif, serta responsif terhadap keberagaman kebutuhan mahasiswa. Upaya tersebut sekaligus memperkuat komitmen ISI Yogyakarta dalam membangun lingkungan pendidikan tinggi yang memberikan ruang bagi seluruh mahasiswa untuk belajar, berkarya, dan berpartisipasi secara setara.

Author : Tim Humas FSRD

Search
Categories

Share this post

en_USEN