Menakar Episteme dan Eksistensi FSRD ISI Yogyakarta di Panggung Global

Menakar Episteme dan Eksistensi FSRD ISI Yogyakarta di Panggung Global

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera bagi kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan dan Rahayu

Puji Syukur kepada Tuhan YME, pada bulan Maret 2026 QS World University Rankings (WUR) by Subject Art & Design 2026 telah diumumkan.  Pada tahun 2026 ini FSRD ISI Yogyakarta berada pada klaster #151–200# dunia untuk bidang Art & Design, dimana pencapaian ini memang mengalami penurunan peringkat dari tahun 2025 lalu yang berada pada klaster #101-150# atau tepatnya berada diperingkat #112# dunia. Pencapaian ini bagi FSRD ISI Yogyakarta bukan sekadar angka statistik, tetapi bagi FSRD hal ini adalah manifestasi dari keteguhan intelektual, kedalaman estetis, dan validasi atas diskursus seni rupa dan desain yang FSRD bangun selama ini.

Pencapaian ini juga mengukuhkan posisi FSRD ISI Yogyakarta dalam peta 50 besar Asia dan 20 besar Asia Tenggara. Namun, lebih dari itu, pencapaian FSRD dalam percakapan global bersama institusi sekaliber Royal College of Art menandakan bahwa paradigma pendidikan seni dan desain yang kita usung, yang memadukan kekayaan local genius dengan metodologi kontemporer memiliki relevansi universal. Selain itu pencapaian FSRD di QS WUR ini adalah fondasi bagi FSRD ISI Yogyakarta untuk melakukan transformasi kurikulum yang lebih responsif. FSRD telah merencanakan akan memperkuat laboratorium digital, riset-riset berbasis IT-Seni, dan kolaborasi lintas disiplin antara seni rupa dan desain dengan sains data. FSRD ingin dunia melihat bahwa di ISI Yogyakarta, teknologi tidak membunuh tradisi, dan AI tidak menggantikan seniman, namun sebaliknya, di tangan kita, teknologi adalah kanvas baru yang memperluas cakrawala kemanusiaan.

Capaian Top 200 Dunia QS WUR 2026 ini hadir tepat ketika dunia pendidikan tinggi seni dan desain saat ini sedang diuji oleh disrupsi teknologi yang luar biasa, yakni akselerasi Artificial Intelligence (AI). Sebagai institusi yang kini diakui secara global, FSRD ISI Yogyakarta tidak melihat AI sebagai ancaman terhadap orisinalitas, melainkan sebagai perluasan ruang kognitif (augmented creativity) bagi seniman dan desainer. Masuknya FSRD dalam klaster elit dunia ini menuntut FSRD untuk memimpin diskursus tentang bagaimana teknologi digital dan IT tidak hanya digunakan sebagai alat (tool), tetapi sebagai mitra dialog dalam proses kreatif. FSRD harus mampu merumuskan etika dan estetika baru di mana intuisi manusia yang luhur berkolaborasi dengan efisiensi algoritma.

Terdapat Lima indikator QS WUR, mulai dari academic reputation hingga international research network, mencerminkan bahwa ekosistem akademik di FSRD ISI Yogyakarta tidak lagi bersifat insular. FSRD telah berhasil mentransformasi praktik artistik menjadi sebuah kerja saintifik yang diakui oleh komunitas global, di mana setiap karya adalah riset dan setiap desain adalah solusi atas problematika kemanusiaan. Meskipun kita di FSRD merayakan capaian ini, saya ingin menegaskan bahwa pemeringkatan bukanlah tujuan akhir (telos), melainkan sebuah kompas. Visi FSRD ke depan adalah menjadi pusat gravitasi kreativitas dunia yang adaptif, dimana FSRD tidak boleh terjebak dalam euforia angka namun sebaliknya harus memperdalam penetrasi riset kolaboratif internasional dan memperkuat H-index melalui publikasi yang berdampak luas.

Fakultas Seni Rupa dan Desain saat ini sedang menuju fase di mana ISI Yogyakarta menjadi institusi yang transdisipliner yaitu meleburkan batas antara tradisi artistik dengan inovasi teknologi dan keberlanjutan lingkungan. Global-Sovereign, yaitu mampu berdaya saing global tanpa kehilangan kedaulatan budaya dan karakter estetika lokal yang menjadi akar kekuatan kita sebagai bangsa Indonesia dan Impactful yaitu memastikan setiap luaran akademik dan artistik dari FSRD memberikan kontribusi nyata bagi industri kreatif dan kesejahteraan masyarakat global.

Dalam skala nasional maupun internasional, profil profesional di bidang seni rupa dan desain telah berubah. FSRD ISI Yogyakarta berkomitmen untuk mencetak lulusan yang:

  1. Melek teknologi dan berdaulat kreatif yang mampu menguasai alat-alat AI (generatif, parametrik, hingga analisis data) tanpa kehilangan jati diri dan kedalaman filosofis sebagai seniman.
  2. Adaptif di pasar global yaitu mampu memanfaatkan IT untuk memperluas jejaring internasional, menembus batasan fisik melalui platform digital, dan menguasai ekonomi kreatif baru yang berbasis pada intellectual property di era digital.
  3. Memiliki kemampuan kritis dan etis, yaitu mampu menjadi garda terdepan dalam menyikapi isu hak cipta, otentikasi karya, dan kemanusiaan di tengah otomatisasi industri kreatif.

Dalam kesempatan ini, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh sivitas akademika FSRD ISI Yogyakarta, para dosen yang tak lelah meneliti dan berkarya, para mahasiswa yang terus bereksperimen, dan tenaga kependidikan yang menjaga ritme institusi. Terima kasih pula kepada Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn., Para Wakil Rektor dan segenap Pimpinan ISI Yogyakarta atas arahan strategisnya dalam mengawal transformasi kelembagaan ini. Mari kita jadikan momentum 2026 ini sebagai batu pijakan untuk melompat lebih tinggi. FSRD ISI Yogyakarta tidak hanya ingin sekadar “ada” dalam daftar peringkat dunia, namun ingin menjadi pihak yang ikut menentukan arah masa depan seni rupa dan desain dunia.

Sekian dan terimakasih. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Om santi, santi, santi om.

Dekan FSRD ISI Yogyakarta,

Muhamad Sholahuddin, S. Sn., MT.

Kabar terkait: https://fsrd.isi.ac.id/fakultas-seni-rupa-dan-desain-soroti-capaian-global-isi-yogyakarta-dalam-qs-wur-2026/

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDID