Kuliah Manajemen Seni dengan Seniman Jumaldi Alfi dan Dedy Sufriadi, Mahasiswa Seni Murni ISI Yogyakarta Belajar Mengelola Karier dan Pascaproduksi

Kuliah Manajemen Seni dengan Seniman Jumaldi Alfi dan Dedy Sufriadi, Mahasiswa Seni Murni ISI Yogyakarta Belajar Mengelola Karier dan Pascaproduksi

Yogyakarta, 4 Mei 2026 – Program Studi Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menggelar kegiatan kuliah tamu untuk mata kuliah Manajemen Seni pada hari Senin (04/05). Bertempat di SaRanG Art, Books & Coffee, Kasihan, Bantul, kuliah tamu ini menghadirkan dua seniman perupa ternama, Jumaldi Alfi dan Dedy Sufriadi, sebagai narasumber.

​Dalam sesi yang dihadiri oleh mahasiswa mata kuliah Manajemen Seni tersebut, kedua seniman berbagi pengalaman dan wawasan mendalam mengenai praktik profesional di industri seni rupa. Diskusi difokuskan pada empat pilar penting yang sering kali menjadi penentu keberlanjutan karier seorang seniman: pengelolaan jejaring, profesionalitas, dedikasi pada proses berkarya, serta manajemen pascaproduksi (after-production).

​Jumaldi Alfi menekankan pentingnya membangun kerja sama kolektif dan kelompok sebagai support system yang solid di tengah dinamika seni kontemporer. Menurutnya, kolaborasi dan jejaring bukan sekadar untuk memperluas pasar, melainkan untuk saling menopang dan memicu diskursus kritis antar-pekerja seni. Lebih jauh, Jumaldi menegaskan bahwa seniman yang terisolasi dari komunitas cenderung kehilangan cermin kritis terhadap karyanya sendiri. Jejaring yang sehat, katanya, adalah ruang di mana pertanyaan-pertanyaan keras tentang seni justru bisa dilontarkan dengan jujur tanpa rasa takut.

Sementara itu, Dedy Sufriadi menyoroti pentingnya menjaga profesionalitas dan ketekunan dalam menjalani proses kreatif. Ia mengingatkan para mahasiswa bahwa bakat saja tidak cukup; disiplin terhadap proses dan konsistensi berkarya adalah kunci utama untuk bertahan. Dedy juga berbagi pengalaman pribadinya menghadapi titik-titik jenuh dan krisis inspirasi yang pasti dialami setiap seniman. Baginya, profesionalitas bukan berarti kehilangan kebebasan ekspresi, melainkan kemampuan untuk tetap hadir dan produktif bahkan di saat kondisi tidak ideal sekalipun.

​Selain aspek produksi, sesi ini juga menyoroti aspek pascaproduksi (after-production) yang sering diabaikan oleh perupa muda. Pembicara menjelaskan bahwa manajemen pameran, dokumentasi, pengarsipan, hingga strategi komunikasi karya kepada publik merupakan rangkaian akhir yang krusial untuk melengkapi nilai sebuah karya seni.

​Melalui kegiatan ini, Program Studi Seni Murni FSRD ISI Yogyakarta berharap mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai ekosistem seni, tidak hanya dari sudut pandang penciptaan karya, tetapi juga dari manajemen dan pengelolaan karier profesional setelah karya tersebut selesai diproduksi.

Author: Tim Humas Prodi Seni Murni

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

id_IDID