{"id":5488,"date":"2020-06-29T12:58:26","date_gmt":"2020-06-29T05:58:26","guid":{"rendered":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/?p=5488"},"modified":"2020-06-29T12:58:26","modified_gmt":"2020-06-29T05:58:26","slug":"kreativitas-dosen-fsr-pada-saat-pandemi-covid-19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/kreativitas-dosen-fsr-pada-saat-pandemi-covid-19\/","title":{"rendered":"Creativity of FSR Lecturers During the Covid-19 Pandemic"},"content":{"rendered":"<p>Kreativitas dosen Fakultas Seni Rupa di masa pandemi Covid-19 mengusung ide-ide baru dengan merespon situasi dan kondisi saat ini. Meskipun dalam kurun waktu pandemi Covid-19, tidak menghentikan semangat dosen Fakultas Seni Rupa untuk tetap aktif berkarya. Salah \u00a0satunya dosen Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, Drs. Otok Herum Marwoto, M.Sn. telah merancang karya batik &#8220;Truntum Ceplok Corona&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Konsep Karya &amp; Makna Filosofi Batik &#8220;Truntum Ceplok Corona&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Konsep Karya<br>Wabah yg melanda umat manusia di dunia ini sangat dahsyat, yaitu wabah virus Corona.<br>Virus yg sangat misterius dan mematikan membuat dunia lumpuh tak berdaya, sehingga membuat saya terinspirasi untuk mengimplementasikannya ke dlm sebuah karya seni, yg berupa batik.<br>Bentuk virus yg kelihatannya tdk kasat mata, akan saya coba wujudkan secara visual dgn imajinasi yg ada dlm pikiran saya.<br>Motif batik yg diterapkan dlm karya ini merupakan perpaduan antara motik batik klasik yg sdh dikembangkan (Truntum) dgn motif batik modern (Corona), menjadi perpaduan yg dinamis antara tradisi &amp; modern.<\/p>\n\n\n\n<p>Makna Filosofi<br>Secara etimologi, truntum berasal dari istilah teruntum\u2013tuntum (bahasa Jawa) artinya tumbuh lagi. Taruntum memiliki arti senantiasa bersemi dan semarak lagi. Bermotif seperti taburan bunga-bunga abstrak kecil, atau menyerupai kuntum bunga melati.<br>Ceplok adalah sebuah lambang dari keseimbangan, keteraturan, dan kesempurnaan.<br>Motif ceplokan biasanya terdiri dari motif-motif geometris, seperti lingkaran, kotak persegi empat, bujur sangkar, dan bintang. Motif-motif geometris itu terkadang dikombinasikan dengan motif lainnya, seperti bunga, gurdo atau garuda.<br>Karya Truntum Ceplok Corona, adalah penggambaran dunia saat ini yg sedang dilanda musibah yg sangat dahsyat, yaitu penyebaran Virus Corona.<br>Coronavirus atau sering disebut Covid-19 adalah nama sebuah virus yang menyebabkan penyakit pada manusia yg mematikan.<br>Manusia di seluruh dunia hrs bisa bertahan dari serangan virus ini dengan selalu menjaga kesehatan dgn meningkatkan daya imun tubuh yg kuat, atau stamina yg prima.<br>Dalam karya batik ini warna dasarnya adalah hitam, penggambaran dari dunia saat ini yg kelam karena dilanda musibah hebat.<br>Motif latar berupa truntum, menggambarkan sebuah kekuatan semangat manusia yg secara bersama2 ingin tumbuh dan bersemi kembali dari sebuah keterpurukan.<br>Motif Ceplok Corona, menggambarkan sebuah bentuk Virus Corona yg penyebarannya sangat cepat.<br>Karya ini bisa menjadikan pengingat di masa depan, yg menjadikan sejarah kelam ditahun 2020.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>WORK DATA<br \/>\nName: Drs. Otok Herum Marwoto, M.Sn.<br \/>\nType of Work: Craft<br \/>\nTitle of work: Truntum Ceplok Corona<br \/>\nTahun Pembuatan : Mei 2020<br \/>\nMedia: Kain Mori Primisima<br \/>\nUkuran 130 cm X 130 cm<br \/>\nTeknik: Canting Tulis<br \/>\nPewarnaan: Remashol dan Napthol<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":5491,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[111],"class_list":["post-5488","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-info","tag-kriyafsrisiyogyakarta"],"featured_image_src":{"landsacpe":["https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/WhatsApp-Image-2020-06-29-at-10.28.09-e1593410668438-1-640x445.jpeg",640,445,true],"list":["https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/WhatsApp-Image-2020-06-29-at-10.28.09-e1593410668438-1-463x348.jpeg",463,348,true],"medium":["https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/WhatsApp-Image-2020-06-29-at-10.28.09-e1593410668438-1-300x295.jpeg",300,295,true],"full":["https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/WhatsApp-Image-2020-06-29-at-10.28.09-e1593410668438-1.jpeg",640,629,false]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5488","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5488"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5488\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5491"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5488"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5488"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5488"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}