{"id":4032,"date":"2019-06-25T08:29:50","date_gmt":"2019-06-25T01:29:50","guid":{"rendered":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/?p=4032"},"modified":"2019-06-25T08:29:50","modified_gmt":"2019-06-25T01:29:50","slug":"pameran-seni-rupa-dies-natalis-xxxv-lustrum-vii-institut-seni-indonesia-yogyakarta-seni-rupa-di-era-revolusi-industri-4-0","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/pameran-seni-rupa-dies-natalis-xxxv-lustrum-vii-institut-seni-indonesia-yogyakarta-seni-rupa-di-era-revolusi-industri-4-0\/","title":{"rendered":"Pameran Seni Rupa Dies Natalis XXXV &#8211; Lustrum VII Institut Seni Indonesia Yogyakarta \u201cSeni Rupa di Era Revolusi Industri 4.0\u201d"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada hari Senin, 24 Juni 2019 bertempat di Galeri RJ Katamsi telah dilaksanakan pembukaan Pemeran Seni Rupa Dies Natalis XXXV-Lustrum VII ISI Yogyakarta yang di buka oleh Rektor ISI Yogyakarta dengan kurator Bambang Witjaksono, M.Sn., Terra Bajraghosa, M.Sn., Dony Arsetyasmoro, S.Sn., M.Ds., Budi Hartono,S. Sn., M. Sn. Pameran ini akan berlangsung dari tanggal 24 Juni &#8211; 03 Juli 2019.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahun ini, tema utama dari peringatan Lustrum ke 7 ISI Yogyakarta adalah \u201cKecerdasan Buatan dalam Seni di Era Revolusi Industri 4.0\u201d. Dijelaskan secara rinci maksud dari tema tersebut adalah melihat pencapaian yang sudah terjadi selama lima tahun dan perlu adanya refleksi menuju ke era revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 merupakan integrasi antara dunia internet secara daring dengan dunia usaha atau produksi di sebuah industri yang mampu mendukung semua bidang, salah satunya dalam dunia akademik. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pameran Seni Rupa <strong>Dies Natalis XXXV\/Lustrum VII Institut Seni\nIndonesia Yogyakarta 2019 adalah \u201cSeni Rupa di Era Revolusi Industri 4.0\u201d<\/strong>\nkali ini cukup istimewa. Pameran diikuti oleh alumni masing-masing program\nstudi, mahasiswa, dan juga dosen di lingkungan Fakultas Seni Rupa, Institut\nSeni Indonesia Yogyakarta. Pameran ini\ndiikuti oleh 27&nbsp; Alumni dan Dosen, 111 &nbsp;Mahasiswa dari Fakultas Seni Rupa ISI\nYogyakarta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam dunia seni rupa global, sebenarnya aspek\nteknologi bahkan yang kini disebut revolusi industri 4.0 sudah sangat erat\nmelekat pada pola, metode, proses dan tampilan visualnya. Pada event ini yang menjadi\nberbeda adalah karena tema revolusi industri 4.0 ini dikaitkan dengan dunia\nseni rupa secara akademik. Padahal, sesungguhnya secara sistematis seni rupa\nakademis masih bersandar pada pola seni modern. Bidang\ndesain khususnya desain interior dapat dipahami sebagai salah satu produk dari revolusi industri.\nPerkembangan jaman berimbas pada bidang desain interior karena memunculkan\nmaterial dan teknologi yang berbeda yang terus direspon oleh desainer. Desain\ninterior yang dulunya hanya sebatas mendekorasi ruangan kini sudah berkembang menjadi tenaga spesialis\/ahli yang spesifik yang\nmemerlukan keahlian yang komplek mulai dari pengetahuan material, teknologi\nserta tren gaya hidup yang berkembang di masyarakat.Teknologi membuat segalanya\nberubah secara cepat sesuai keinginan penggunanya, termasuk selera masyarakat\nyang bisa berubah dengan cepat karena pengaruh derasnya arus informasi salah\nsatunya melalui media sosial. Keberadaan media sosial menjadikan ajang\neksistensi diri yang bisa dilakukan siapa saja, kapan saja dan dimana saja, termasuk\ndengan mengunggah tempat dengan desain yang menarik dan unik, hinggamuncul\nistilahtempat\/lokasi yang <em>instagramable<\/em>. Para\nprofesional di bidang desain interior dituntut bekerja secara kreatif,\ninovatif, dan multidisiplin untuk dapat memanfaatkan disrupsi teknologi guna\nmenciptakan lingkungan binaan yang lebih baik. Keberandaan revolusi industri\n4.0 membuat batas antara dunia digital, fisik dan biologis semakin tipis. Semua\naktifitas berpusat pada penggabungan teknologi otomatisasi dan teknologisiber telah\nmengubah paradigma masyarakat terutama generasi milenial.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada Desain Interior sebagai sebuah\nbidang ilmu terapan, kepekaan seorang desainer pada keberagaman tututan\nkonsumen\/pasarsudah menjadi keharusan agar karyanya bisa terus aktual\ndimasyarakat. Era revolusi industri 4.0 bisa disepakati telah memunculkan\nkarakteristik konsumen yang berbeda dengan tuntutan yang berbeda juga. Akan\ntetapi tidak bisa diabaikan bahwa sebagian masyarakat kita masih banyak yang\nbelum tersentuh oleh revolusi industri ini, khususnya masyarakat marginal yang\ntidak memiliki akses pada teknologi karena faktor ekonomi. Oleh sebab itu\ndesainer interior dituntut tetap bisa fleksibel dan akomodatif merespon\nkebutuhan masyarakat yang terus berubah tanpa mengabaikan perannya untuk tetap\nmelayani semua kalangan masyarakat yg mungkin masih berada di zona revolusi\nindustri 3.0 atau bahkan 2.0, karena perlu diingat revolusi industri muncul\nkarena kebutuhan bukan untuk gagah-gagahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Teddy\nRahardianto, desainer interior dan furnitur yang sekarang berdomisili di Osaka,\nJepang menampilkan proyek perancangan lobi <em>Burbank Suites Apartement<\/em> di\nCikarang Jakarta yang kental dengan gaya modern minimalis sesuai dengan tren\nyang diminati kaum urban saat ini. Keputusan untuk tinggal kota besar membuat\nTeddy dengan mudah menterjemahkan bahasa-bahasa desain yang elegan untuk\nditerapkan pada perancangannya. Sedang Puspa Candrajati melalui perusahaannya\nKinanthi Royal Decor menampilkan mini <em>photobooth<\/em>untuk <em>wedding\ndecoration<\/em>. Karyanya memiliki <em>branding<\/em>\nyang kuat karena selalu konsisten mengggunakan material alami dan seting di\nluar ruangan (<em>outdoor<\/em>) dengan konsep\nnatural tetapi tetap berkesan ekslusif dan elegan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para mahasiswa yang\nmemilih \u2018jalur internet\u2019 ini pun berjibaku menghadirkan keunggulan karya\nsepenuhnya dengan sebagian masa tugas akhir dihabiskan untuk mempelajari sistem\ndan teknis medianya, selain menyiapkan rancangan visualnya. <em>Gadget<\/em> tertentu pun dihadirkan secara\nswadaya oleh mahasiswa dalam pameran tugas akhir untuk menunjang hal ini, baik\nmembeli, meminjam, ataupun menyewa. Pemilihan tema besar Dies Natalis yang\nberkenaan dengan kecerdasan buatan memantik pikiran untuk kembali menilik\nkarya-karya yang setidaknya menggunakan internet dalam distribusinya. Sangat\ndisayangkan, namun hal ini adalah kenyataan, karya-karya <em>nginternet<\/em> ini mempunyai tingkat kesulitan berlapis untuk\nditampilkan dalam sebuah pameran seni rupa. Lapis mendasar dan paling esensial\nadalah ketidakbisaan kami sebagai kurator untuk menyediakan <em>gadget<\/em> untuk menampilkan karya. Atau\nketidak-sesuaian software yang kadang ketika ditampilkan hanya bersifat trial,\ndan sudah habis masa pakainya. Pada sisi karya, kadang yang tersedia hanya versi\nbeta-nya. Alternatif lain adalah menampilkan versi luringnya, atau versi\npresentasinya dalam bentuk pemetaan-pikiran yang dicetak, namun hal ini juga\nakan mengikis sisi <em>user experience<\/em>-nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Program Studi Desain Komunikasi Visual\nFakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, pada era revolusi industri 4.0 masa kini,\ntelah banyak karya Tugas Akhir mahasiswa yang mengacu pada sistem <em>Internet of Things<\/em>, atau setidaknya\nmempunyai tujuan pada sistem tersebut karena fokus sebenarnya adalah pada\ndesain tampilan visualnya. Pada awal tahun 2000-an karya-karya desain berbasis\ndigital seperti misalnya game, video pendek, dan tutorial interaktif, dirancang\nuntuk tampil di layar komputer dan didistribusikan melalui bentuk fisik cakram\npadat. Satu dekade setelahnya, gagasan distribusi melalui medium fisik mulai\nbergeser pada distribusi melalui medium internet. Apa yang didistribusikan\ntidak lagi terbatas pada apa yang sebelumnya hanya bisa dipikirkan tampil pada\nlayar (komputer), karena pada era telepon-pintar ini, hampir semuanya tampil\nmelalui layar. Dan hal-hal tersebut, konten-konten yang didistribusikan\ntersebut, sudah pasti bersifat visual. Sifat visual ini, atau lebih tepat jika\ndisebut \u2018visualisasi informasi\u2019 dalam ranah industri 4.0 , tidak hanya bersifat\nmenghias atau mendekorasi suatu konten, namun juga mempermudah penggunaan\nkonten itu sendiri dengan mengingat bahwa pada masa ini pemenuhan berbagai\nkebutuhan dan keperluan manusia modern ditunjang dengan adanya teknologi\ninternet.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendidikan seni rupa, khususnya seni kriya, selalu berbanding lurus\ndengan perkembangan teknologi. Kemahiran dan kelihaian tangan dalam praksis\nseni kriya menjadi hal yang sangat vital dalam menciptakan produk kriya. Namun,\nhanya dengan mengandalkan kemahiran tangan saja tidaklah cukup untuk menghasilkan\nsuatu produk kriya inovatif yang memiliki nilai tinggi. Keberadaan teknologi\ninternet dalam revolusi industri 4.0 dapat dimanfaatkan oleh para kriyawan\nuntuk mencari informasi dalam menggali dan menyempurnakan ide serta gagasan\ntanpa harus bersusah payah dan tentu meminimalkan biaya produksi yang\ndikeluarkan. Akan tetapi, apakah kecerdasan buatan akan mengeliminasi\npraktik-praktik pola kerja bidang seni kriya dan tergerus hilang ditelan\nzaman?&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Keberagaman serta kekayaan alam yang melimpah, sumber daya manusia, seni\ndan budaya warisan adiluhung yang dimiliki Indonesia merupakan modal yang tak\nternilai bagi bangsa Indonesia. Kenyataannya, karya seni kriya dan proses\nkreatif pada era kecerdasan buatan tidak selalu hadir dengan kemasan praktik industrialisasi\nsemata. Seni kriya hadir dan lekat pada masyarakat tradisi, tidak lepas dengan\npola hidup, adat istiadat tempat mereka lahir dan tinggal. Adapun seni kriya\njuga bisa lahir dari suatu hal yang imajiner, spiritualitas, kontemplasi, dan\nsebagainya. Ketika kepiawaian tangan mampu menaklukkan canting, memainkan\ngaris-garis dinamis penuh harmoni pada selembar kain, dan diulang kembali\nsetelah proses pewarnaan, adalah proses kreatif yang belum tergantikan dengan\ncara mekanis mesin. Akan tetapi, di satu sisi kemajuan teknologi, seperti\ntelepon seluler <em>(handphone), <\/em>juga\nmenguntungkan bagi kriyawan. Dengan adanya telepon seluler (ponsel), cara\nmarketing tradisional sudah mulai ditinggalkan. Para kriyawan dapat melakukan\ntransaksi dengan kliennya hanya melalui ponsel, tanpa harus bertatap muka\nsecara langsung. Demikian pula untuk urusan perbankan, misalnya, kriyawan dapat\nmenggunakan aplikasi perbankan yang terdapat pada ponselnya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Tradisi mengundang para alumni untuk berperan dalam <em>event-event<\/em> acara kampus, seperti Dies Natalis adalah sesuatu yang penting dan perlu dilestarikan karena mereka di luar kampus adalah tonggak, wajah kita semua dalam wacana <em>art world <\/em>seni kriya. Capaian artistik mereka selalu dilihat, dicatat, dan ditunggu kiprahnya, baik nasional maupun internasional. Alumni, khususnya Seni Kriya, diharapkan mampu menampilkan ide kreatif mereka setelah meninggalkan bangku perkuliahan. Pengalaman di luar kampus yang mereka peroleh, pola kerja berdasarkan riset merupakan bagian dari tata cara intim kerja mereka berkarya, sehingga akan terlihat dan tercermin pada setiap karya yang ditampilkan dalam berpameran nanti. Para alumni Seni Kriya yang turut berpartisipasi pada kesempatan kali ini, antara lain Endang Lestari, Carolina Rika Winata, Wahyu Hidayat (Gogon), Rudi Hendriatno, dan Apri Susanto, yang mewakili kriya keramik, kriya tekstil, kriya logam, dan kriya kayu. Sangatlah pantas bagi mereka untuk ikut meramaikan pameran ini. Tidak dipungkiri kiprah mereka selalu <em>update<\/em> dengan ide kreatif, dedikasi, usaha yang keras untuk menciptakan karya-karya inovatif. <\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1040\" height=\"780\" src=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-3-1.jpeg\" alt=\"\" data-id=\"4037\" data-link=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/?attachment_id=4037\" class=\"wp-image-4037\" srcset=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-3-1.jpeg 1040w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-3-1-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-3-1-768x576.jpeg 768w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-3-1-463x348.jpeg 463w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-3-1-640x480.jpeg 640w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-3-1-400x300.jpeg 400w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-3-1-367x275.jpeg 367w\" sizes=\"(max-width: 1040px) 100vw, 1040px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" width=\"1040\" height=\"780\" data-src=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-4-1.jpeg\" alt=\"\" data-id=\"4038\" data-link=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/?attachment_id=4038\" class=\"wp-image-4038 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-4-1.jpeg 1040w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-4-1-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-4-1-768x576.jpeg 768w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-4-1-463x348.jpeg 463w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-4-1-640x480.jpeg 640w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-4-1-400x300.jpeg 400w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-4-1-367x275.jpeg 367w\" data-sizes=\"(max-width: 1040px) 100vw, 1040px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 1040px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1040\/780;\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" width=\"1040\" height=\"780\" data-src=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-1-1.jpeg\" alt=\"\" data-id=\"4040\" data-link=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/?attachment_id=4040\" class=\"wp-image-4040 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-1-1.jpeg 1040w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-1-1-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-1-1-768x576.jpeg 768w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-1-1-463x348.jpeg 463w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-1-1-640x480.jpeg 640w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-1-1-400x300.jpeg 400w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-1-1-367x275.jpeg 367w\" data-sizes=\"(max-width: 1040px) 100vw, 1040px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 1040px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1040\/780;\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" width=\"1040\" height=\"780\" data-src=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-2.jpeg\" alt=\"\" data-id=\"4041\" data-link=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/?attachment_id=4041\" class=\"wp-image-4041 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-2.jpeg 1040w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-2-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-2-768x576.jpeg 768w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-2-463x348.jpeg 463w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-2-640x480.jpeg 640w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-2-400x300.jpeg 400w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.25-AM-2-367x275.jpeg 367w\" data-sizes=\"(max-width: 1040px) 100vw, 1040px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 1040px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1040\/780;\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" width=\"1040\" height=\"585\" data-src=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-1-e1561425601244-1.jpeg\" alt=\"\" data-id=\"4035\" data-link=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/?attachment_id=4035\" class=\"wp-image-4035 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-1-e1561425601244-1.jpeg 1040w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-1-e1561425601244-1-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-1-e1561425601244-1-768x432.jpeg 768w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-1-e1561425601244-1-640x360.jpeg 640w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-1-e1561425601244-1-400x225.jpeg 400w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-25-at-8.15.24-AM-1-e1561425601244-1-367x206.jpeg 367w\" data-sizes=\"(max-width: 1040px) 100vw, 1040px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 1040px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1040\/585;\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" width=\"1045\" height=\"594\" data-src=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/mas-arya-1.jpg\" alt=\"\" data-id=\"4045\" data-link=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/?attachment_id=4045\" class=\"wp-image-4045 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/mas-arya-1.jpg 1045w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/mas-arya-1-1024x582.jpg 1024w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/mas-arya-1-768x437.jpg 768w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/mas-arya-1-640x364.jpg 640w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/mas-arya-1-400x227.jpg 400w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/mas-arya-1-367x209.jpg 367w\" data-sizes=\"(max-width: 1045px) 100vw, 1045px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 1045px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1045\/594;\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img decoding=\"async\" width=\"1046\" height=\"594\" data-src=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/pak-burhan-1.jpg\" alt=\"\" data-id=\"4046\" data-link=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/?attachment_id=4046\" class=\"wp-image-4046 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/pak-burhan-1.jpg 1046w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/pak-burhan-1-1024x582.jpg 1024w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/pak-burhan-1-768x436.jpg 768w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/pak-burhan-1-640x363.jpg 640w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/pak-burhan-1-400x227.jpg 400w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/pak-burhan-1-367x208.jpg 367w\" data-sizes=\"(max-width: 1046px) 100vw, 1046px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 1046px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1046\/594;\" \/><\/figure><\/li><\/ul>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada hari Senin, 24 Juni 2019 bertempat di Galeri RJ Katamsi telah dilaksanakan pembukaan Pemeran Seni Rupa Dies Natalis XXXV-Lustrum VII ISI Yogyakarta yang di buka oleh Rektor ISI Yogyakarta dengan kurator Bambang Witjaksono, M.Sn., Terra Bajraghosa, M.Sn., Dony Arsetyasmoro, S.Sn., M.Ds., Budi Hartono,S. Sn., M. Sn. Pameran ini akan berlangsung dari tanggal 24 Juni [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":4034,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-4032","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-info"],"a3_pvc":{"activated":false,"total_views":2,"today_views":0},"featured_image_src":{"landsacpe":["https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-22-at-6.38.05-AM-1-1140x445.jpeg",1140,445,true],"list":["https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-22-at-6.38.05-AM-1-463x348.jpeg",463,348,true],"medium":["https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-22-at-6.38.05-AM-1-300x300.jpeg",300,300,true],"full":["https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WhatsApp-Image-2019-06-22-at-6.38.05-AM-1.jpeg",1280,1280,false]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4032","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4032"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4032\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4034"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4032"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4032"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4032"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}