{"id":1621,"date":"2014-12-11T01:44:08","date_gmt":"2014-12-11T01:44:08","guid":{"rendered":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/?p=1621"},"modified":"2014-12-11T01:44:08","modified_gmt":"2014-12-11T01:44:08","slug":"undangan-pameran-tipografi-urip-uriping-aksara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/undangan-pameran-tipografi-urip-uriping-aksara\/","title":{"rendered":"UNDANGAN PAMERAN TIPOGRAFI &#8220;URIP-URIPING AKSARA&#8221;"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/1504386_10203884373802325_7286172112734680203_o-1.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-1622 aligncenter\" style=\"border: 2px solid orange;\" alt=\"1504386_10203884373802325_7286172112734680203_o\" src=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/1504386_10203884373802325_7286172112734680203_o-1-900x886.jpg\" width=\"600\" height=\"590\" \/><\/a><\/p>\n<div>\n<p>Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, untuk kesekian kalinya mengadakan pameran tipografi dengan tema &#8220;<i>Urip-uriping aksara<\/i>&#8220;, gagasan tema <i>Urip-uriping aksara,<\/i> berangkat dari fenomena aksara (huruf &amp; tipografi) sebagai elemen visual yang \u2018hidup\u2019 dalam kehidupan manusia. Aksara, bukan hanya dipandang sebagai satuan huruf dan susunannya sehingga membentuk suatu makna. Ia lebih dari itu. Ia, memiliki \u2018nyawa\u2019, mampu \u2018menyalurkan nyawanya\u2019 secara kultural, sehingga\u2013katakanlah\u2013ia dapat dipersepsi sebagai huruf yang kuat, klasik, maskulin, atau feminin. Keberagamannya memosisikan aksara sebagai \u2018etalase <i>font\u2019<\/i>, sebagai media ekspresi pada komunikasi visual.<\/p>\n<p>Di sinilah, aksara bersifat \u2018<i>nguripi<\/i>\u2019. Ia menghidupi manusia dengan pilihan rupa aksara dan kesan. Membantu manusia memilih dan mengaransemennya untuk berbagai kebutuhan. Ia dapat difungsikan untuk kebutuhan-kebutuhan informasi sesuai dengan kesan yang diciptakannya. Dan tak hanya itu, Ia juga mampu menjadi penanda semangat jaman (<i>zeitgeist<\/i>), identitas kultural, pun sebagai representasi pengalaman personal.<\/p>\n<p>\u2018Nyawa\u2019 dari aksara tidak hanya selesai di situ. Ia, karena berdampingan dengan bahasa tutur, dapat mengartikulasi berbagai suara menjadi susunan aksara; dentuman, teriakan, langkah kaki. Aksara \u2018menggambarkan\u2019 ekspresi, intonasi, panjang suaranya, sampai dengan \u2018berat\u2019 atau \u2018lemah\u2019-nya suara. Aksara\u2013melalui kreativitas penggambarannya\u2013dapat menjadi elemen visual yang mampu \u2018mewarnai\u2019 elemen lain ketika ia diaransemen, dikomposisi maupun dikombinasikan. Ia mampu menciptakan dramatisasi dan aksentuasi pesan dan estetika pada suatu \u2018ruang\u2019 gambar sampai \u2018mengalirkan\u2019 proses membaca. Aksara\u2013dalam hal ini\u2013menjadi elemen yang \u2018<i>nguripke<\/i>\u2019. Dalam pengertian, ia hadir dalam konteks tertentu, bukan dari ruang kosong. Ia mampu \u2018mengisi\u2019, memberi \u2018makna\u2019, maupun memberi ekspresi terhadap elemen disekelilingnya.<\/p>\n<p>Aksara\u2013dari sisi penciptaan\u2013juga memiliki sifat tak terbatas (<i>infinite<\/i>). Visualitas aksara dapat tercipta menggunakan berbagai objek, material, medium, gaya, teknik, sampai teknologi. Pun juga \u2018ramah\u2019 untuk bersinergi dengan berbagai konteks maupun konsep simbolik. Ia bisa mereproduksi suara, dentuman, teriakan, sampai memetafora berbagai objek menjadi disain aksara yang ekspresif. Dan sebaliknya, ia pun bisa menjadi inspirasi untuk memproduksi berbagai objek, mengekspresikan perasaan, karya seni visual, <i>ambient object<\/i>, sampai permainan berbasis aksara dengan berbagai medium. Aksara, dalam hal ini, dapat menginspirasi dan hadir untuk publik. Ia, tanpa adanya suatu sistem aturan pragmatis, memiliki kemampuan untuk diderivasi menjadi objek kreasi. Ia siap diamini oleh siapapun untuk didekonstruksi. Aksara, pada akhirnya, \u2018<i>ngurupke<\/i>\u2019 kehidupan manusia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, untuk kesekian kalinya mengadakan pameran tipografi dengan tema &#8220;Urip-uriping aksara&#8220;, gagasan tema Urip-uriping aksara, berangkat dari fenomena aksara (huruf &amp; tipografi) sebagai elemen visual yang \u2018hidup\u2019 dalam kehidupan manusia. Aksara, bukan hanya dipandang sebagai satuan huruf dan susunannya sehingga membentuk suatu makna. Ia lebih dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[38,4],"tags":[],"class_list":["post-1621","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-info","category-pameran"],"a3_pvc":{"activated":false,"total_views":1,"today_views":0},"featured_image_src":{"landsacpe":false,"list":false,"medium":false,"full":false},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1621","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1621"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1621\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1621"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1621"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1621"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}