{"id":1489,"date":"2014-03-13T01:39:17","date_gmt":"2014-03-13T01:39:17","guid":{"rendered":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/?p=1489"},"modified":"2014-03-13T01:39:17","modified_gmt":"2014-03-13T01:39:17","slug":"batik-kontemporer-karya-mahasiswa-jurusan-kriya-fsr-isi-yogyakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/batik-kontemporer-karya-mahasiswa-jurusan-kriya-fsr-isi-yogyakarta\/","title":{"rendered":"Batik Kontemporer Karya Mahasiswa Jurusan Kriya FSR ISI Yogyakarta"},"content":{"rendered":"<h1 id=\"page-title\">Mengeksplorasi Karya Batik Kontemporer<\/h1>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/photo-1.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1493\" style=\"border: 5px solid black;\" alt=\"photo\" src=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/photo-1.jpg\" width=\"480\" height=\"350\" srcset=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/photo-1.jpg 480w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/photo-1-400x292.jpg 400w, https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/photo-1-367x268.jpg 367w\" sizes=\"(max-width: 480px) 100vw, 480px\" \/><\/a><\/p>\n<div>\n<div>Lenggak-lenggok para model cantik terlihat anggun menghiasi area catwalk. Dengan luwesnya mereka memeragakan aneka busana batik kontemporer.<\/div>\n<p>Kali ini para model tersebut bukannya membawakan karya desainer ternama, tapi justru kreasi dari para mahasiswi lulusan Jurusan Strata Satu (S- 1) Kriya Tekstil, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang tidak kalah hebatnya. Melalui karya-karya itu, para mahasiswi ini berani menyajikan motif batik yang berbeda daripada lainnya. Ini tidak lepas dari perkembangan motif batik tradisi yang tidak hanya berhenti stagnan dalam bentuk \u201citu-itu\u201d saja.<\/p>\n<p>Sejumlah anak muda pun terpanggil mengembangkannya ke dalam motif batik kontemporer. Seperti yang dilakukan Nuri Ningsih Hidayati, 22. Mahasiswi yang baru saja lulus dari ISI Yogyakarta ini, dalam karya tugas akhirnya mengemas fenomena alam ke suatu motif batik cantik yang tersaji dalam sebuah kain batik panjang. Dari kain tersebut, kemudian diolah menjadi suatu karya desain busana yang anggun dan memesona.<\/p>\n<p>\u201cAda delapan karya busana wanita yang saya buat. Lebih ke sebuah kain panjang yang dililitkan, dilipat, maupun digraperi dengan aneka kreasi busana ke tubuh model. Di sini saya gabungkan motif tradisional dan modern. Yang lebih terinspirasi pada fenomena alam di Jepang, khususnya yang terjadi saat (bunga) sakura bersemi,\u201d ucap Nuri kepada wartawan di Yogyakarta, belum lama ini.<\/p>\n<p>Terlihat menarik ketika motif batik yang dibuatnya itu dikolaborasikan antara tradisi Jepang dengan motif batik Truntum asal Yogyakarta. Apalagi Nuri menyajikannya dengan warna-warna alam. Seperti warna biru indigo, cokelat maupun cokelat tua, abu-abu, pink salem, hijau indigo, kuning, hingga merah hati. Semua warna itu bisa didapatkan dari daun maringo, daun jati, daun mangga, akar, batang, kulit, biji, hingga bunga-bunga yang terdapat di jalanan.<\/p>\n<p>Kemudian warna tersebut dituangkan ke dalam kain sutera dengan teknik eksperimen celup, coletan, dan lainnya. \u201cKarya ini diperuntukkan dalam busana gaun malam. Untuk motifnya, saya desain dari proses malam juga, seperti dalam pembatikan. Dengan warna alam yang tentu berbeda dengan warna sintesis,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Sama halnya dengan Firta Kumala Sari, 22. Hanya, maha-siswi tingkat akhir Jurusan S-1 Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta ini justru terinspirasi dengan keberadaan bunga teratai stilir gajah. \u201cMulanya saya ingin angkat ornamen relief yang ada di Jepara. Di sana dulu banyak terdapat itu, kira-kira dari agama Hindu sampai dengan Wali Sanga. Bentuk-bentuk relief dari manusia atau hewan itu lalu diubah jadi bentuk bunga yang distilisasi ke dalam bentuk lainnya seperti hewan,\u201d kata Firta.<\/p>\n<p>Umumnya, lanjut dia, ornamen relief asli banyak yang memuat tentang kera dan bunga mawar. Dalam karyanya yang terpengaruh agama Hindu ini lantas ditransfer ke dalam bunga teratai, maupun gajah sebagai bentuk ekspresi. Yang kemudian dituangkan ke sebuah kain panjang terusan macam gaun pesta one piece.<\/p>\n<p>Bisa dikreasikan dengan bentuk kemben maupun dililitkan dalam bentuk apapun. \u201cDi sini saya banyak gunakan warna seperti merah, biru, dan putih. Ada delapan koleksi kain panjang yang saya buat,\u201d tandasnya. ?SITI ESTUNINGSIH Yogyakarta<\/p>\n<div id='gallery-1' class='gallery galleryid-1489 gallery-columns-2 gallery-size-thumbnail'><figure class='gallery-item'>\n\t\t\t<div class='gallery-icon portrait'>\n\t\t\t\t<a href='https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/batik-kontemporer-karya-mahasiswa-jurusan-kriya-fsr-isi-yogyakarta\/1-9\/'><img decoding=\"async\" width=\"150\" height=\"150\" data-src=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/1-1-150x150.jpg\" class=\"attachment-thumbnail size-thumbnail lazyload\" alt=\"\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 150px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 150\/150;\" \/><\/a>\n\t\t\t<\/div><\/figure><figure class='gallery-item'>\n\t\t\t<div class='gallery-icon portrait'>\n\t\t\t\t<a href='https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/batik-kontemporer-karya-mahasiswa-jurusan-kriya-fsr-isi-yogyakarta\/1557481_10200889914889648_1475996688_n\/'><img decoding=\"async\" width=\"150\" height=\"150\" data-src=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/1557481_10200889914889648_1475996688_n-1-150x150.jpg\" class=\"attachment-thumbnail size-thumbnail lazyload\" alt=\"\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 150px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 150\/150;\" \/><\/a>\n\t\t\t<\/div><\/figure><figure class='gallery-item'>\n\t\t\t<div class='gallery-icon portrait'>\n\t\t\t\t<a href='https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/batik-kontemporer-karya-mahasiswa-jurusan-kriya-fsr-isi-yogyakarta\/1920277_10200889916329684_865206431_n\/'><img decoding=\"async\" width=\"150\" height=\"150\" data-src=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/1920277_10200889916329684_865206431_n-1-150x150.jpg\" class=\"attachment-thumbnail size-thumbnail lazyload\" alt=\"\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 150px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 150\/150;\" \/><\/a>\n\t\t\t<\/div><\/figure><figure class='gallery-item'>\n\t\t\t<div class='gallery-icon portrait'>\n\t\t\t\t<a href='https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/batik-kontemporer-karya-mahasiswa-jurusan-kriya-fsr-isi-yogyakarta\/1939726_10200889903129354_346880022_n\/'><img decoding=\"async\" width=\"150\" height=\"150\" data-src=\"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/1939726_10200889903129354_346880022_n-1-150x150.jpg\" class=\"attachment-thumbnail size-thumbnail lazyload\" alt=\"\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 150px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 150\/150;\" \/><\/a>\n\t\t\t<\/div><\/figure>\n\t\t<\/div>\n\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengeksplorasi Karya Batik Kontemporer Lenggak-lenggok para model cantik terlihat anggun menghiasi area catwalk. Dengan luwesnya mereka memeragakan aneka busana batik kontemporer. Kali ini para model tersebut bukannya membawakan karya desainer ternama, tapi justru kreasi dari para mahasiswi lulusan Jurusan Strata Satu (S- 1) Kriya Tekstil, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[],"class_list":["post-1489","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-info"],"a3_pvc":{"activated":false,"total_views":0,"today_views":0},"featured_image_src":{"landsacpe":false,"list":false,"medium":false,"full":false},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1489","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1489"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1489\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1489"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1489"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsrd.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1489"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}