Kunjungi Importa, Dosen Jurusan Desain ISI Yogyakarta Eksplorasi Material, Inovasi Produk, dan Peluang Kolaborasi

Kunjungi Importa, Dosen Jurusan Desain ISI Yogyakarta Eksplorasi Material, Inovasi Produk, dan Peluang Kolaborasi

Sleman, 3 Agustus 2026 — Dosen Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta melakukan kunjungan ke showroom Importa Yogyakarta sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan antara pendidikan desain dan praktik industri. Kegiatan tersebut menjadi ruang bertukar wawasan mengenai proses pengembangan produk furnitur, strategi desain, pemanfaatan material, hingga peluang kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri (03/08). Ketua Jurusan Desain FSRD ISI Yogyakarta, Setya Budi Astanto, S.Sn., M.Sn., menilai kunjungan tersebut penting karena memberikan kesempatan bagi dosen untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah gagasan desain dikembangkan dalam konteks industri. 

“Kunjungan ini penting bagi Jurusan Desain karena mempertemukan proses pembelajaran di kampus dengan realitas pengembangan produk di industri. Mahasiswa perlu memahami bahwa desain bukan hanya persoalan bentuk, tetapi juga material, produksi, kebutuhan pengguna, harga, dan karakter pasar. Kami juga melihat peluang kolaborasi yang menarik dengan Importa, terutama dalam eksplorasi material besi, pengembangan desain berbasis nilai lokal, hingga proses prototyping dan validasi pasar,” ujar Bapak Setya atau lebih akrab dipanggil Bapak Gilda.

Kunjungan diawali dengan sesi pemaparan dan diskusi bersama pihak Importa. Para dosen memperoleh gambaran mengenai proses pengembangan produk yang dilakukan perusahaan, mulai dari identifikasi kebutuhan pasar, pengembangan desain oleh tim research and development (R&D), hingga pengelolaan kebutuhan khusus dari klien. Dalam pengembangan produknya, Importa menerapkan beberapa pendekatan desain. Sebagian produk dikembangkan berdasarkan kebutuhan khusus dari klien maupun mitra, termasuk mitra dari Tiongkok. Produk lainnya lahir melalui proses pengembangan internal oleh tim R&D, sementara sejumlah desain dikembangkan dengan mengombinasikan berbagai referensi dan temuan yang diperoleh dari pameran serta perkembangan tren furnitur. Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana proses desain dalam konteks industri tidak berhenti pada penciptaan bentuk, tetapi melibatkan pertimbangan produksi, kebutuhan pengguna, karakter pasar, harga, hingga kemampuan perusahaan dalam merespons permintaan yang terus berubah.

Material Besi dan Pengembangan Identitas Produk

Salah satu topik yang banyak dibahas dalam sesi tersebut adalah pengembangan furnitur berbasis material besi. Importa dikenal sebagai salah satu pionir dalam pengembangan lemari besi untuk pasar Indonesia. Pemilihan material tersebut berkaitan dengan kebutuhan akan produk yang memiliki durabilitas tinggi, mudah dirawat, sekaligus dapat ditawarkan dalam rentang harga yang sesuai dengan karakter pasar domestik. Saat ini, pengembangan berbasis besi juga mulai diarahkan pada produk dapur. Material besi dinilai memiliki potensi dalam menjawab kebutuhan area dapur karena relatif tahan lama dan lebih mudah dibersihkan. Namun, penggunaan material tersebut juga menghadirkan tantangan desain tersendiri, terutama bagaimana menghadirkan produk logam yang tetap memiliki kualitas visual, kenyamanan penggunaan, serta karakter yang sesuai dengan interior rumah masyarakat Indonesia.

Dalam diskusi, muncul pula pembahasan mengenai pentingnya local wisdom sebagai salah satu sumber diferensiasi produk. Nilai lokal tidak harus diwujudkan secara literal dalam bentuk ornamen tradisional, tetapi dapat diterjemahkan melalui motif, karakter visual, pola, maupun pendekatan desain yang memiliki keterkaitan dengan konteks budaya Indonesia. Pengembangan motif juga membuka kemungkinan kolaborasi dengan desainer, seniman, maupun institusi pendidikan. Dengan pendekatan tersebut, produk tidak hanya bersaing melalui fungsi dan harga, tetapi memiliki identitas yang membedakannya dari produk furnitur dari merek lainnya. Bagi lingkungan pendidikan desain, pembahasan ini menjadi relevan karena menunjukkan bahwa budaya lokal dapat ditempatkan bukan sekadar sebagai elemen dekoratif, melainkan sebagai sumber ide dan nilai tambah dalam pengembangan produk yang berorientasi pasar.

Dari Masterclass hingga Validasi Pasar

Diskusi antara dosen dan pihak Importa turut membahas peluang pengembangan program kolaboratif bertajuk Importa Next-Gen Steel Design Lab. Berdasarkan materi yang dipresentasikan dalam pertemuan, program tersebut dirancang melalui sistem tiga tahap yang menghubungkan pembelajaran desain dengan kebutuhan nyata industri.

Tahap pertama berupa Steel Design Masterclass, yang diarahkan pada transfer pengetahuan mengenai cold rolled steel, sistem boltless, serta aspek teknis pengembangan produk melalui workshop dan materi desain. Tahap ini dapat memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai karakter material dan batasan produksi sebelum memasuki proses eksplorasi desain. Tahap berikutnya berupa Thematic Challenge, yaitu tantangan desain melalui sejumlah tema yang dekat dengan arah pengembangan produk perusahaan, seperti lemari pakaian berbahan besi, solusi furnitur untuk ruang urban yang semakin terbatas, serta pengembangan konsep Steel-Tech Office. Tahap ketiga mengarah pada Market Validation. Desain terpilih direncanakan dapat dikembangkan menjadi prototipe bersama fasilitas produksi Importa dan berpeluang ditampilkan dalam pameran nasional, termasuk IFEX, sebagai cara untuk memperoleh respons langsung dari pasar.

Skema tersebut menunjukkan kemungkinan model kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi yang tidak berhenti pada kegiatan kunjungan atau kompetisi desain. Mahasiswa berpotensi mengikuti rangkaian proses mulai dari memahami material, merumuskan konsep, mengembangkan desain, membuat prototipe, hingga melihat bagaimana sebuah gagasan diuji pada konteks pasar sebenarnya.

Melihat Langsung Produk dan Konteks Pasar

Usai sesi pemaparan, rombongan dosen melanjutkan kegiatan dengan meninjau berbagai produk yang tersedia di showroom Importa. Dari dokumentasi kegiatan terlihat bahwa peserta berdiskusi langsung di antara beragam furnitur, mulai dari sofa, meja, kabinet, hingga produk penyimpanan. Showroom tour memberikan kesempatan kepada dosen untuk mengamati produk tidak hanya dari sisi visual, tetapi juga dari pemilihan material, konstruksi, proporsi, detail, konfigurasi penggunaan, hingga bagaimana sebuah produk ditempatkan dalam konteks ruang interior.

Pihak Importa turut memberikan penjelasan mengenai karakter produk dan pertimbangan pasar di balik pengembangannya. Salah satu perhatian perusahaan adalah bagaimana menghadirkan produk dengan harga yang relatif terjangkau bagi konsumen Indonesia, tanpa mengabaikan fungsi, daya tahan, dan perkembangan gaya hidup masyarakat. Importa juga memiliki tim proyek yang menangani kebutuhan khusus dari klien. Keberadaan tim tersebut menunjukkan bahwa praktik desain dalam industri furnitur dapat bergerak antara produk massal dan solusi yang lebih spesifik sesuai kebutuhan proyek maupun pengguna.

Bagi dosen Jurusan Desain, kunjungan tersebut memberikan kesempatan untuk melihat lebih dekat hubungan antara proses desain yang dipelajari dalam lingkungan akademik dengan realitas pengembangan produk di industri. Keputusan mengenai bentuk, material, harga, produksi, hingga identitas sebuah produk pada akhirnya harus dipertimbangkan secara terintegrasi.

Author : Tim Humas FSRD

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

id_IDID