Bantul, 23 Juni 2026 — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan menjadi perhatian dalam Wicara Seni yang telah berlangsung di Galeri R.J. Katamsi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada Selasa (23/6) pukul 14.00-16.00 WIB. Kegiatan yang merupakan bagian dari program aktivasi Pameran Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta ini mengangkat tema “Spektrum Estetika dalam Algoritma Pasca-Mesin” dan menghadirkan ruang dialog mengenai hubungan antara seni, teknologi, dan kemanusiaan di era digital.
Wicara seni ini digelar sebagai upaya memperluas pembacaan terhadap tema pameran “Algoritma Pasca-Mesin: Resonansi Perasaan dalam Jaringan Biner”. Melalui forum tersebut, peserta diajak mendiskusikan berbagai perubahan yang terjadi dalam praktik artistik ketika teknologi berbasis algoritma semakin terlibat dalam proses penciptaan, distribusi, dan konsumsi karya seni.
Acara menghadirkan Anne Shakka, penulis sekaligus dosen Studi Humanitas Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), serta Ni Putu Rahayu Sukma Dewi yang meraih penghargaan Karya Terbaik pada Pameran Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta. Diskusi dipandu oleh Karen Hardini, kurator, peneliti, dan penulis yang aktif dalam pengembangan kajian seni kontemporer di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Ni Putu Rahayu Sukma Dewi memaparkan proses kreatif di balik karya yang memperoleh apresiasi terbaik pada bidang desain interior dalam pameran. Ia menjelaskan bagaimana gagasan, pengalaman personal, dan eksplorasi artistik berperan dalam proses penciptaan karya, sekaligus menyoroti tantangan yang dihadapi seniman ketika berhadapan dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat. Sementara itu, Anne Shakka membahas berbagai persoalan yang muncul dalam pertemuan antara teknologi dan kemanusiaan. Melalui perspektif humanitas digital, ia menyoroti bagaimana perkembangan teknologi tidak hanya memengaruhi cara manusia menghasilkan karya, tetapi juga membentuk cara berpikir, memahami identitas, membangun pengetahuan, dan mengonstruksi pengalaman estetis.
Berbagai isu mengenai relasi manusia dan mesin menjadi fokus pembahasan dalam forum tersebut. Diskusi mengangkat pertanyaan mengenai peran AI dalam proses kreatif, batas-batas kolaborasi antara manusia dan teknologi, serta kemungkinan-kemungkinan baru yang muncul dalam praktik seni kontemporer. Perbincangan ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka ruang eksplorasi baru bagi para pelaku seni.
Antusiasme peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa, akademisi, seniman, dan masyarakat umum menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap isu kecerdasan buatan dalam dunia seni. Forum ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk bertukar pandangan mengenai dampak teknologi terhadap kreativitas serta masa depan praktik artistik di tengah transformasi digital yang terus berlangsung.
Bagi ISI Yogyakarta, penyelenggaraan wicara seni ini merupakan bagian dari komitmen institusi dalam menghadirkan ruang diskusi yang relevan dengan perkembangan zaman. Sebagai perguruan tinggi seni, ISI Yogyakarta terus mendorong terciptanya dialog lintas disiplin yang mampu mempertemukan perspektif seni, teknologi, dan humaniora untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat.
Melalui kegiatan ini, ISI Yogyakarta kembali menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan seni dan pengetahuan yang tidak hanya berorientasi pada penciptaan karya, tetapi juga pada pengembangan pemikiran kritis. Wicara seni tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian Dies Natalis ke-42 dalam memperkuat peran seni sebagai medium refleksi, dialog, dan pencarian makna di tengah percepatan perkembangan teknologi digital.
Author: Tim Humas FSRD







